Nur berharap, kegiatan seperti ini terus berjalan, agar bisnis yang dikelolah masyarakat Desa Olu ikut berkembang.
“Saya juga berharap kegiatan ini terus berjalan sehingga usaha yang kami kelola bisa berkembang,” harapnya.

Di samping itu, Kepala Seksi Wilayah II Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Sulawesi, M. Mugni Budi Mulyono, menuturkan, Harga Pokok Produksi (HPP) adalah hal yang krusial.
Menurutnya, jika hitungan HPP kurang tepat, maka dapat berdampak pada penetapan harga.
“Penghitungan HPP yang kurang tepat, akan berdampak pada penetapan harga yang kurang tepat juga,” tuturnya.
Ia mengatakan, akibat minimnya literasi keuangan, produk UMKM masyarakat dapat kalah bersaing di pasaran.
“Jika ternyata harga yang ditetapkan terlalu tinggi untuk dapat menutup harga pokok produksi terlalu tinggi, bisa berdampak pada volume penjualan dimana usaha tersebut bisa saja kalah bersaing di pasaran,” kata Mugni Budi.
Founder PT. Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, ST., AWP., QWP., menambahkan, dengan pelatihan tata kelola usaha dan literasi keuangan, masyarakat Desa Olu dapat mengetahui cara menghitung biaya yang diperlukan dan dikeluarkan.
Hal tersebut dapat membantu para pelaku UMKM Desa Olu lebih berkembang, sekaligus memantau realisasi biaya produksi.
“Semoga pelatihan ini dapat membantu mereka menyusun laporan keuangan secara mandiri, salah satu tujuan Pelatihan ini yaitu untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang HPP, yang merupakan elemen kunci dalam mengelola bisnis dengan efisiensi dan berhasil,” tandasnya. (*)