Ada Konservasi Maleo di Palu, Terbuka Untuk Umum Sekaligus Jadi Pusat Penelitian

Dua burung Maleo sedang makan. Foto : Ainun/soalpalu.com

PALU – Terdapat konservasi burung Maleo di kota Palu, Sulawesi Tengah. Tempat tersebut dijadikan sebagai pusat penelitian dan terbuka untuk umum.

Konservasi burung Maleo itu berlokasi di Jalan Bente II, Kelurahan Tavanjuka, Kecamatan Palu Selatan. Dr. Ir. Mobius Tanari MP., IPU adalah orang yang memimpin di tempat konservasi itu.

Selain bertugas di konservasi Maleo, Mobius merupakan Dosen di Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako (Untad).

Tempat konservasi tersebut merupakan hasil Perjanjian kerjasama perusahaan minyak dan gas, dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah.

Dosen Untad, Mobius Tanari memegang telur burung Maleo. Foto : Istimewa

Mobius menerangkan, terdapat tiga tujuan dilakukannya konservasi burung Maleo. Pertama sebagai tempat riset berkelanjutan, kedua dapat memperkenalkan Maleo ke masyarakat dan terakhir membantu peningkatan populasi di alam.

Menurut dosen Untad ini, banyak faktor dapat pengaruhi turunnya populasi hewan dengan nama ilmiah Macrocephalon Maleo. Beberapa faktor itu ialah telur diambil orang, dimakan predator, dan alam.

“Konservasi ex situ ini sebagai supporting system untuk membantu peningkatan populasi Maleo di alam,” terang Mobius kepada soalpalu.com, Jumat, 2 Juni 2023, pagi waktu setempat.

Sebanyak 12 mahasiswa telah melaksanakan penelitian di konservasi Maleo ini. Selain itu, tempat tersebut dibuka untuk umum. Beberapa pengunjung adalah warga negara asing.

Mobius mengatakan, dahulu, Maleo disebut tidak dapat kawin, bertelur hingga menetaskan telur jika tidak di alam bebas. Namun, hal itu terbantahkan dengan risetnya beberapa waktu lalu.

Tempat konservasi ini telah berhasil melepas sebanyak 500 burung Maleo ke alam bebas. Maleo yang dilepaskan seluruhnya berumur di atas dua bulan.

“Sekarang di tempat ini ada enam ekor maleo dewasa, tujuh ekor anakan yang akan dilepas di atar umur 2 bulan,” jelas Mobius.

Bahkan beberapa Maleo telah diterbangkan ke Surabaya, Bali dan Taman Safari Indonesia di Bogor.

Telur burung Maleo. Foto : Ainun/soalpalu.com

Mobius mengaku, merawat Maleo tidak beda jauh dengan merawat Ayam. Burung tersebut juga ternyata gemar konsumsi kemiri karena memiliki tekstur lembut sehingga mudah dicerna.

Ia menambahkan, di alam bebas, Maleo Senkawor dapat berusia 25 tahun. Sedangkan di tempat konservask ini, Maleo tertua berusia lebih kurang empat tahun.

Sedangkan di Kabupaten Banggai tepatnya Luwuk, terdapat Maleo yang telah berusia sembilan tahun.

“Kita pelihara lama, karena mau lihat seberapa lama usia Maleo,” tambahnya.

Saat ini, Mobius menggantungkan harapan terbesar dengan adanya tempat konservasi tersebut. Diharap Maleo tidak lagi masuk dalam kategori hewan dilindungi.

Ia menginginkan, dengan tempat konservasi tersebut, populasi Maleo semakin bertambah hingga pada akhirnya burung suku Megapodiidae ini dapat dipelihara oleh masyarakat.

“Harapan besarnya kita, jika populasi meningkat, maleo tidak lagi masuk dalam kategori hewan dilimdungi. Kita ingin Maleo ini bisa dipelihara masyarakat,” harapnya. (Ainun/Rendy)

Related posts

Atlet Karate Asal Sulteng Raih Medali Emas di ASEAN University Games 2024

Bangkitkan Mental dan Jiwa Petarung Atlet PON Sulteng, Gubernur : Mereka Adalah Masa Depan Sulawesi Tengah

Cegah Pohon Tumbang, DLH Kota Palu Monitoring Pohon di Jalan Vetran dan Hangtuah